Jumat, 13 November 2015

Rukun Warga (RW) 008 Pisangan Ciputat Selenggarakan Santunan Anak Yatim dengan Konser Dangdut

Hot News


Santunan anak yatim yang diadakan oleh RW 008 Pisangan Ciputat banyak sekali menimbulkan kontrofersial diantara warga, penduduk asrama dan penanggung jawab acara tersebut.
“kok santunan anak yatim dangdutan sih?” begitulah sindiran-sindiran dari penduduk asrama putra dan asrama putri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang Ciputat.
Senin malam (09/11) RW 008 menyelenggarakan santunan anak yatim dengan mendirikan panggung konser didepan asrama pengkaderan organisasi IMM Cabang Ciputat. Namun, banyak sekali mahasiswa diluar lingkup penduduk asrama IMM menganggap bahwa acara tersebut diselenggarakan oleh penduduk IMM dan anggapan tersebut kebanyakan berbau negatif. “kok organisasi Islam mengadakan acara konser dangdut, gak pantes banget!” begitulah anggapan-anggapan dari mahasiswa diluar penduduk asrama yang memang tidak tahu-menahu seputar acara tersebut.
Anggapan-anggapan yang keluar dari
mahasiswa diluar penduduk asrama tersebut memang dianggap wajar. Karna acara tersebut diselenggarakan bertepatan di depan asrama pengkaderan organisasi IMM dan konsep acara tersebut dinilai sangat kurang Islami. Sebagaimana ungkapan yang dipaparkan oleh M Rahmad salah satu warga asrama putra IMM ketika diwawancarai di aula Fastabiqul Khairot Selasa (10/11) “menurut saya konsepnya sih sudah bagus, ‘santunan anak yatim’ tapi kenyataanya, konsep tersebut tidak sesuai dengan esensinya, esensinya itu lebih kepada hiburan-hiburan semata. Lagi pula kalau RW mau ngadain acara santunan anak yatim pun, caranya jangan seperti itu dong! Kalau mau santunan, ya langsung aja gitu kasih ke anak yatim gak usah dipamer-pamerkan. Ini malah seperti riya saja.”
Acara santunan anak yatim tersebut berlangsung selama 3 jam. Mulai dari pukul 22.30 sampai dengan pukul 24.30 WIB. Namun setelah acara itu berakhir, keesokan harinya, ketika M Rahmad menyapu halaman asrama, ia menemukan banyak sekali tutup-tutup botol minuman karas (miras) berserakan di depan halaman asrama dimana acara itu berlangsung. “kemaren saya liat saat pagi nyapu, banyak tutup botol miras yang berserakan di depan halaman asrama. Saya merasa prihatin melihatnya. Secara sebagai institusi yang penuh pendidikan, masa didepannya ada konser dangdut? Di depan IMM gituloh, nah secara otomatis pasti IMM ikut tercoreng.” tegasnya. Bahkan ia berpendapat, jika RW 008 mengadakan acara sesuai konsep pun ia akan menolak. Kecuali jika acara tersebut memang diadakan oleh institusi sendiri.
Hal ini bertentangan sekali dengan pendapat Lia Rahmat selaku ketua pelaksana sekaligus anak dari ketua RW 008. “Itu bukan santunan anak yatim ya. Itu konser amal. Jadi acara yang seperti ini memang sudah biasa kami selenggarakan. Kebetulan lokasi yang tepat itu memang di depan asrama IMM. Kami sudah dapat izin kok dari ketua asrama. Kami pun tidak sembarangan menyelenggarakan acara itu. Kami udah buat peraturan kok larangan buat mabok-mabokan kepada semua warga. bahkan kami pun mengundang kapolsek cabang Ciputat buat jadi pengaman selama acara berlangsung.” jelasnya saat diwawancarai didepan kantor RW 008, Rabu (12/11). “kalau adek mau tau, biduan-biduan yang hadir kemaren itu enggak dibayar kok. Malahan mereka yang membayar kita, uangnya buat anak-anak yatim yang ada di RW. Acara ini juga tujuannya untuk merangkul warga-warga yang ada disini. Karna banyak sekali diluar daerah Ciputat itu sendiri ormas-ormas yang tidak akur. Nah, acara-acara yang seperti inilah yang membuat ormas-ormas yang satu dengan yang lainnya itu akur.” lanjutnya.
Ketua asrama IMM sempat ingin membatalkan perjanjiannya itu kepada ketua pelaksana, tapi pembatalan ini diprotesi oleh Lia Rahmat selaku ketua pelaksana acara santunan anak yatim tersebut. “saya sempat kesal juga sama ketua asrama. Masa kita udah bikin janji dari hari Jumat. Eh, pas mau hari H nya, seenaknya aja dia mau batalin janji. Emang siapa dia. Kalau mau batalin ya jangan mendadak lah. Soalnya surat sudah kita sebar, panggung juga udah kita pesen, tinggal masangnya doang. Kalau adek ada di posisi saya pasti kesel lah.” jelasnya.
       Kontrofersial yang terjadi antara warga, penduduk asrama dan RW dianggap wajar. Semua itu kembali kepada diri kita sendiri. Bagaimana caranya kita memposisikan diri kita agar dapat menjadi analisa yang baik. Keduanya tidak salah dan tidak pula dibenarkan. Hal ini tergantung bagaimana cara kita menyikapinya saja. Kita tidak boleh menilai suatu hal tanpa analisis yang baik. Kita pun tidak boleh menilai suatu hal hanya dari luarnya tanpa adanya pembuktian oleh diri sendiri. Ibarat makanan, kita tidak akan bisa dan tidak boleh menelan makanan mentah tanpa dimasak terlebih dahulu. Begitu pula dengan sebuah informasi. Janganlah kita menerima suatu informasi dari orang lain secara mentah-mentah tanpa kita matengin informasi itu dengan cara mencari kebenaran informasi tersebut dengan banyak sumber yang pasti.