Kamis, 18 September 2014

11092014



DITULIS:12SEPT2014
Atas kasur biru. 10.10
Ta’lim muta’lim. Apakah ia terdakwa atau bukan, entahlah.
Hari itu, adalah kiamat kecil bagi pondok kami. Mungkin, bahkan, bisa jadi itu adalah kiamat besar, bagi sebagian orang.
Yang pasti dan sangat jelas itu adalah kiamat besar bagiku.
Pengumuman tidak jelas setelah pengajian tak berguru.
Kantuk hilang seketika. Aneh, tapi
sungguh, sebelumnya ada ‘azam.
Sial, ada Evakuasi.  Alat komunikasi canggih yang aku miliki dirampas paksa.
Ah, kecerobohan. Ah, hanya aku. Ah, aku bingung. Ah, serba salah.
Tergeletak dimana saja. Seorang pelantara menyelamatkan, tapi sayang, tangan kosong.
Pasrah, mungkin hanya ini yang bisa aku lakukan. Ah, tak perduli dilabel sebagai sekte Murji’ah.
Mencoba husnuzhan. Hasilnya, berbalik 3600 derajat.
Dari sana, aku belajar. Aku harus lebih berhati-hati.
Peraturan tetaplah peraturan. Namun, tak berlaku bagiku.
Peraturan tetaplah cobaan. Ya, karna menurutku, jika kita melakukan segala sesuatu karna aturan, pasti hasilnya tidak ada keikhlasan. Dan pada akhirnya, malaikat Rakib pun tahu semua itu.
Pembentukan moral? Bisa jadi. Tapi, hanya sementara. Hanya berlaku selama di pesantren.
setelah lulus pesantren? ah, tergantung individual. Aku tak seperti itu.
Maafkan karna menyalahkanmu wahai peraturan. Karna, aku sudah tahu semua tentang kau sewaktu SMP. Dengan peraturan yang begitu dahsyat, aku merasa terbentuk.
Berbeda dengan peraturan pondokku di ‘Aliyah, longgar. Hidupku serasa tak terarah. Aku bebas melakukan yang aku mau secara ghairu mahdhoh tanpa ada yang melarang.
Maafkan aku teman SMP, aku sangat munafik akan akhlak ku yang bukan sebenarnya.
Akhlak ku dulu adalah peraturan dulu, yang ada di SMP. Namun, inilah aku yang sebenarnya.
Kiri mang.....................!